Peluncuran Buku Falsafah Benih

Benih merupakan salah satu pilar penting dalam diskursus kedaulatan pangan. Disinilah benih dapat dipahami bahwa tak ada kedaulatan pangan jika petaninya tidak berdaulat. Salah satu hal penting dalam kehidupan petani adalah benih. Gagasan tentang benih menjadi falsafah hidup dan kehidupan. Meski tak eksplisit, ada nada kuat prinsip “kedaulatan atas benih” dipesankan dalam buku ini. Tak akan ada kedaulatan benih jika tak ada kedaualatan agraria. Landasan semangat inilah yang selaras dengan misi dan cita-cita Sajogyo Institute. Sejak berdiri 10 Maret 2005, Sajogyo Institute mendorong masyarakat pedesaan mampu lepas dari kemiskinan struktural dan berdaulat atas sumber-sumber agrarianya berdasarkan “tenaga dalam” mereka sendiri. Daulat agraria, pada gilirannya mensyaratkan daulat benih. Ya, jika dikatakan, “siapa menguasai tanah, akan menguasai pangan”, maka, “tak ada kedaulatan pangan, tanpa kedaulatan benih”. Disinilah titik penting gagasan Prof Sjamsoe’oed, dan relevansi terbitnya buku ini.

Lihatlah, kini, mudah ditemukan di pelosok pedesaan (Jawa dan Luar Jawa), kelompok paling lemah di pedesaan (petani miskin, gurem, tuna tanah, buruh tani, buruh kasar, dst) laki-laki dan perempuan (termasuk Masyarakat Hukum Adat), ter/dipaksa keluar dari wilayah kelola, pertaniaan dan ruang hidupnya sendiri. Tanah-air mereka dirusak, dicemari, bahkan dirampas hilang. Diganti paksa dengan perkebunan skala besar, pertambangan, kehutanan dan beragam kegiatan ekstraksi, eksploitasi dan industrialisasi berbasis sumber daya alam dan sumber agraria, yang digenapi dengan pembangunan infrastruktur, yang tak pernah demi dan untuk kepentingan mereka. Akibatnya, beragam krisis sosial-ekologis terjadi di mana-mana. Konflik agraria, kemiskinan struktural, kerusakan lingkungan, dan beragam ketimpangan struktur agraria, meningkat tajam. Pertanianpun semakin dianggap tak menjanjikan masa depan. Ini tantangannya, negara agraris tak boleh ingkari agraria.

Filsafat benih mengingatkan:

Kita bisa coba berusaha untuk membangun sumber daya kita yang besar dan sangat bernilai itu, sehingga kita benar-benar menjadi bangsa yang kuat dengan mendidik bangsa kita bisa merubah budaya indolensi menjadi bangsa yang bekerja keras, tahan banting dan berdi-siplin tinggi, seperti yang dimaknakan dalam falsafah benih untuk semangat hidupnya demi untuk kepentingan spesiesnya…

Bermula dari komunikasi lewat telpon. Kemudian berlanjut silaturahmi. Prof Sjamsoe’oed Sadjad berniat menghibahkan seluruh perpustakaan yang dimilikinya ke Sajogyo Institute. Ini satu berkah dan amanah besar bagi Sajogyo Institute. Sekitar 2.5 bulan kemudian, setelah beragam hal disepakati, seluruh perpustakaan Prof Sjamsoe’oed diangkut ke Sajogyo Institute. Berjumlah kurang lebih 2731 buku, jurnal, skripsi, tesis, disertasi beserta 25 album berisi 346 artikel/opini Beliau, kini telah ditata rapi di salah satu ruangan perpustakaan Sajogyo Institute yang diberi nama “Ruang Belajar Roza”. Sebaga-imana amanah Prof Sjamsoe’oed, guna mengenang salah seorang putri Beliau almarhumah, akibat musibah Tsunami di Aceh, tahun 2004 lalu.

Selanjutnya, Sajogyo Institute mendapatkan kehormatan untuk menerbitkan buku Beliau yang berjudul FALSAFAH BENIH, Pendidikan Benih: Melihat Apa Yang Tidak Diketahui Mengetahui Apa Yang Tidak Dilihat yang sebelumnya telah diterbitkan dalam versi Bahasa Inggris dengan judul “The Philosophy of Seed” (IPB Press 2008).

Dalam kesempatan tersebut, Sajogyo Institute beserta Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) bersama-sama menerbitkan buku karya Prof Sjamsoe’oed Sadjad. Hingga pada akhirnya buku tersebut diluncurkan pada hari Sabtu, 14 November 2015 di Rumah Belajar Sajogyo Institute, Jalan Malabar 22 Bogor. Selain peluncuran buku FALSAFAH BENIH, dilaksanakan pula serah terima semua perpustakaan Prof Sjamsoe’oed Sadjad kepada Sajogyo Institute.

Acara peluncuran buku dihadiri pula oleh para kolega Prof Sjamsoe’oed Sadjad seperti Prof Sjarifudin Baharsjah (Menteri Pertanian Indonesia pada Kabinet Pembangunan VII); Dr Gunawan Wiradi; para anak didik Prof Sjamsoe’oed Sadjad seperti Prof Satrias Ilyas dan aktivis-aktivis Agraria dan Pertanian-Lingkungan Hidup.

“… Tak terhingga pula respek saya kepada Sajogyo Institute, yang mengizinkan menempatkan koleksi buku dan literasi lainnya yang puluhan tahu saya pelihara, ke dalam ruang belajar yang dinamakan “Ruang Belajar Roza”. Dalam bahasa latin, Roza berarti spesies atau jenis, dan bagi saya penamaan Roza, berarti pula pelestarian nama anak bungsu saya yang menjadi korman Tsunami di Banda Aceh 11 tahun yang lalu …” Petikan sambutan Prof Sjamsoe’oed Sadjad.

Dalam waktu yang bersamaan, di Universitas Mercu Buana Yogyakarta juga sedang dilaksanakan acara Diskusi dan Bedah Buku FALSAF BENIH. Acara Diskusi dan Bedah Buku diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Agroindustri UMB Yogyakarta.